ONE
“Riela ...”panggil seseorang setelah sekian lama kami saling bertatapan di lobi sebuah mall di Jakarta.
“Mas ... Seraf”
Sesaat kami berdua kembali diam dan hanya terus saling memandang.
Akhirnya ... setelah sekian lama, aku dapat bertemu dengannya.
Menyadari kekakuan ini, aku memaksakan diri tersenyum. Tak bisa kupungkiri jika hati ini terus bergejolak.
“Kok ada disini? Liburan?” tanyanya memecah keheningan.
“Aku?”
Kutunjuk diriku. Meyakinkan diri jika aku gak ke GR an. Ia mengangguk
“Aku ... kerja mas”
“O” Mulutnya membentuk lingkaran kecil “Dimana?”
“Deket sini”
Tangan ini menunjuk ke arah sebuah gedung bertingkat yang letaknya tak terlalu jauh dari Plaza Senayan.
“Dimananya? Lantai berapa?” tanyanya lagi
Bodohnya aku. Kenapa aku hanya menunjuk. Gedung tempatku kerja kan gak cuman berisi kantorku. Lagian dari lantai bawah tanah mana keliatan.
“Lantai 5 mas Aku jadi pegawai bank disana”
“Bagian apa?”
“Back office. Mas sendiri. Kerja juga?”
Ia tersenyum. Memperlihatkan pipinya yang agak tembem. Seulas senyum yang amat kurindukan terlukis di wajahnya.
“Aku kuliah di sini Ri”
“Em ... gitu. Ambil apa mas?”
“Nerusin yang kemarin waktu aku kuliah di Jogja”
Melihatku kebingungan ia kembali tersenyum
“Kan kuliah ku di Jogja sempet keteteran gara-gara kerjaan. Jadi sekarang aku ambil kuliah lagi dari awal tapi di sini”
“Berarti masih manajemen ya mas?”
“Iya”
Pertemuan ini sudah lama kuharapkan. Aku juga sudah berlatih sedemikan rupa kalo saat ini datang. Tapi kenapa semua jadi hilang. Aku sampai gak tahu harus berkata apa atau berbuat apa.
Sebuah kebiasaan ketika rasa grogi memuncak kini kulakukan. Menyelipkan sisa rambut yang terasa tergerai di wajahku. Padahal itu semua gak mungkin terjadi. Kebiasaan kantor kini sering terbawa dalam keseharian. Rambut panjang akan kurapikan dengan membuat sanggul kecil. Sisa rambut yang ada akan kujepit sedemikian rupa sehingga tak menganggu aktivitas di kantor.
Gak bisa kupungkiri, suatu asa kebahagian membahana dalam relung hatiku yang paling dalam. Sesekali detak jantung ini bergelora mengikuti detik waktu yang kuharapkan tak berlalu dengan cepat.
“Cari apa nih?” tanyanya
“Biasa keperluan bulanan. Mo belanca ke supermarket dulu,” kataku singkat
Kami berdua kembali terdiam. Semasa di Jogja kami jarang ngborol jadi wajar kalo sekarang suasananya agak kaku
“Ok deh kalo gitu. Selamat mencari”
“Iya”
“God bless”
“God bless too”
Pertemuan yang gak memakan waktu 10 menit itu kini telah berakhir. Rasa lega karna tak lagi menyembunyikan gejolak hati, kini hadir. Tetapi perasaan kecewa karna tak dapat lagi memandang wajahnya juga terlahir.
Kukembali berusaha fokus membeli barang-barang kebutuhanku. Sesekali mata ini menjelajah, berharap dapat kembali bersua dengannya. Tak mungkin terjadi. Mang plaza Senayan ini sekecil apa? Mana lagi banyak pengunjung.
Perasaan sesal kini membayangi. Kenapa tadi aku diam saja. Padahal aku kan bisa tanya dia sekarang kuliah dimana atau mungkin dia tinggal dimana. Ah … gemes. Padahal aku bener-bener teramat merindukannya.
***
“Ngborong loe Ri” tanya Eza, temen kostku, usai sampe kost
“Enggak. Cuman keperluan pribadi ma kebutuhan kantor”
“Napa gak ambil dari kantor? Kan di kantor loe barang kayak gini pasti ada,” katanya sambil mengangkat satu rim kertas ukuran kuarto.
“Gak enak ah. Aku kan anak baru”
“Aku?” Eza tertawa “Perasaan, bulan ini loe dah bisa ngomong gue loe. Napa hari ini balik lagi?”
“Eh ... “
“Kok muka loe merah. Hayo ... pasti tadi ketemu cowok ya? Tajir Ri?”
“Ah loe ini, tiap ketemu cowok napa pertanyaanmu selalu berakhir dengan: tajir ya Ri?” aku menirukan cara bicara teman baruku ini
Eza kembali tertawa “Ya iyalah. Hari gini gak ada duit?”
“Udah ah. Mo mandi. Gerah”
“Ok. Gue nebeng ngetik ya Ri”
“Ya. Tapi sambil batrainya loe colokin. Soalnya kemarin gue pake liat film. Kalau dah penuh, loe lepas ya batrainya.”
“Ocre”
Di sebelah tembok kamar mandi ini, aku mampu mendengar winamp dari laptop yang bergema. Eza tampak menikmatinya dengan beberapa kali ikut bernyanyi. Sedang aku? Hanya terdiam. Menyesali pertemuan tadi yang berlalu begitu cepat. Aku gemes banget. Banget dan banget. Kenapa setelah sekian lama, aku tak pernah berani sekalipun ngobrol dengannya. Bodohnya aku, padahal kesempatan seperti itu mungkin gak terjadi lagi.
Apa yang harus kulakukan supaya aku bisa bertemu lagi dengannya? Apa aku harus setiap hari ke plaza Senayan? Kan deket kantor. Jadi gak akan masalah buat aku. Tapi masalahnya, kan belum tentu dia bakal kesana lagi.
“Lama banget mandinya. Ngapain aja loe Ri” tanya Eza sambil tetep serius ngetik
“Keramas”
Ku buka handuk yang semula menutup rambutku. Setelah itu mulai mengeringkannya dengan kipas angin satu-satunya di kamar ini. Kipas angin yang tak pernah berhenti berputar jika ada manusia di kamar ini. Yah namanya juga Jakarta. Panas.
Hujan. Mata ini menatap jauh ke luar kamar. Melihat air-air yang tampaknya tengah menari-nari dengan irama yang semakin cepat.
Tujuh bulan yang lalu, aku amat merindukan hujan. Di kota kelahiranku aku selalu berdoa tuk dapat jumpai hujan secepatnya. Berharap datangnya hujan mampu memberikan kesejukan di hatiku.
Mengetahui orang yang kukasih pindah ke kota Metropolitan ini, aku memanjatkan doa supaya bisa nikmati hujan di kota yang sama dengan dia. Kini, semua kudapatkan. Hujan. Ada di kota besar ini bahkan bertemu dengannya. Tapi tetap aja aku merasa kurang.
Ingatkanku terhempas dalam urutan waktu ke belakang. Sebelum berangkatan, para sahabat berpesan supaya di kota yang baru ini aku belajar membuka hati. Buka hati? Mana bisa. Hati ini sudah ada yang memiliki.
Penyesalan terbesit dalam hati. Aku tak bermaksud mengisikan dusta dalam persahabatan ini. Aku selalu katakan pada mereka, jika aku sudah melupakannya. Padahal hal itu tak pernah terjadi. Bahkan sedetikpun rasa cinta ini tak pernah sirna.
Kebohongan ini tak mempunyai maksud lain. Hanya tak mau mereka kuatir oleh keadaanku saat ini. Lagian aku yang bodoh. Mengharapkan cinta orang yang sudah mencinta gadis lain. Seorang gadis yang lebih layak tuk dicintai. Seorang gadis yang memang lebih membutuhkan kehadiran seorang pria. Seseorang seperti mas Seraf.
Sebenarnya … aku juga membutuhkannya. Bahkan teramat sangat. Tetapi aku lebih beruntung, aku dikelilingi sahabat dan keluarga yang 100 % selalu ada untukku. Aku yang suka membuka diri dalam pergaulan buatku mudah mendapatkan sahabat.
Sedang dia? Gadis itu tengah sendirian menuntut ilmu di kota kelahiranku. Sebuah kota yang jauh dari keluarganya. Dia memang mempunyai segudang teman tapi aku yakin itu gak akan cukup karna kudengar dia deket banget ma keluarganya. Jadi kehadiran mas Seraf akan sangat berarti baginya. Dia lebih membutuhkan mas Seraf dari pada aku.
Apa lagi saat-saat ini. Hubungan mereka long distance. Aku yakin waktu yang ada akan ditempuh dengan sms, telpon atau chatting tuk ungkapan rasa rindu. Dan begitu pertemuan terjalin, panah asmara akan bersemi ditemani bunga-bunga cinta yang kian merekah.
“Hei Ri!”
Sebuah sentuhan mendarat di pundakku
“Eh apaan Za”
“Loe itu ... mikirin apa sih loe?”
“Nothing”
Aku berusaha menutupi asaku. Jari jemari ini terus bergerak. Berusaha menata rambut dengan bantuan sisir bergigi jarang didepan kipas angin.
“Gak mungkin loe dengerin gue. Coba deh loe sekarang ngomong tadi gue ngomongin apaan?”
“Apa ya?”
“Tuh kan. Loe pasti gak dengerin. Mikirin apa sih loe Ri?”
Aku menggeleng
“Gak mungkin. Loe pasti mikirin sesuatu. Orang loe gak dengerin gue. Ada apa sih Ri. Cerita dong. Loe sendiri kan yang bilang supaya jangan nyimpen masalah sendirian”
Eza berhenti berbicara dan mengetik. Ia menatapku. Berusaha membaca pikiranku
“Apaan si Ri? Loe kena marah lagi ma atasanmu? Sabar. Namanya juga anak baru. Biasa dapat gojlokan”
“Enggak”
“Terus? Ada masalah keluarga?”
“Enggak”
Kini ku kembalikan sisir ke tempatnya bermukim dan mengambil sebuah botol kecil berisi serum rambut.
“Terus apaan dong. Kantor gak ada masalah. Keluarga gak papa. Em ... cowok yang tadi loe temui di Senayan?”
Aku kaget mendengar perkataan Eza.
“Kok mukamu jadi berubah gitu Ri”
Ternyata Ia mengamati perubahan mimik wajahku dari cermin yang ada di depanku
“Aha ... bener kan. Pasti gara-gara cowok itu. Gila juga tuh cowok. Mang orangnya kayak apa? Penasaran gue. Habis baru kali ini loe bergeming ma seorang cowok”
“Ye ... mang loe pikir gue jeruk makan jeruk?”
Aku berdiri menjemur handukku di depan gantungan depan kamar mandiku
“Hampir gue berpikir gitu kalo gue gak ngdapetin loe kayak gini. Mang gimana cowok itu? Ketemu di PS? Terus kalian ngapain aza? Dah dapet nomornya”
Aku tersenyum mendengar Eza “Loe tanya apa borong?”
“Yah Riela, gue kan pengen tahu”
“Pengen tahu apa? Gak ada yang special kok. Gak pake tukeran no HP segala. Cuman ngobrol bentar. Just say hello”
“Say hello. Berarti loe dah kenal”
Gawat. Salah ngomong. Aturan aku bilang kalo tadi aku liat cowok cakep. Habis perkara.
“Sapa Ri. Gue kenal?”
“Ma sapa?”
“Ya gacoan loe lah”
“Gacoan apa?”
“Yaelah Ri. Selama ini gue crita apa yang gue alami napa loe gak cerita tentang cowok ini”
“Apa yang mau gue omongin. Orang gak ada apa-apa”
Eza tampak tak puas mendengar jawabku. Ia diam tuk berusaha mencari cara supaya aku mau cerita.
“Tadi waktu loe datang, loe bilang diri loe ... aku. Padahal gue dah berusaha keras ngajarin loe gaul. Sekarang tiba-tiba loe balek kayak dulu. Sulit dikorek ma ngmongnya baku banget. Kalo gue gak salah tebak pasti orang itu gak jauh dari kota asalmu? Habis loe ngomong formal kayak gitu kalo gak waktu di kantor ya waktu ketemu ma temen-temenmu itu”
Eza berusaha memberikan analisanya. Aku diam
“Aha ... bener kan tebakan gue. Cerita dong sapa?”
“Panjang Za. Kapan-kapan gue cerita. Dah malem tuh. Kalo loe mo ngetik, bawa aza laptop gue. Gue lagi pengen tidur. Capek. Sorry ya Za”
“Yah Riela .. “Ia menatapku beberapa detik “Loe gak makan?”
“Gak laper”
“Ya udah. Tapi besok cerita ya. Pinjem laptop loe dulu”
Eza membereskan berkas-berkasnya dan mulai memboyong laptopku ke kamarnya. Setelah dua kali mondar-mandir ia kembali melihatku.
“Yakin gak apa loe Ri?” Eza tampak kuatir “Soalnya loe kan biasanya gak berhenti ngoceh. Ada aza yang loe critain. Eh sekarang tiba-tiba jadi diem. Gue kan bingung”
Aku tersenyum “Kasih gue waktu Za. Gue lagi pengen sendiri. Please ...”
“Ok. Have a nice dream ...”
“Thanks ... have a nice dream too”
Pintu ku tutup perlahan. Membalikkan diri menatap sekeliling kamarku. Sebuah ruangan kecil berukuran 3x3 meter. Barang-barangku tampak tak beraturan. Karna belum sempet kurapikan.
Inilah kehidupan yang kuharapkan. Kehidupan yang mandiri. Hidup sendiri di kota asing. Meraih mimpi dan citaku. Berusaha mematangkan diri dengan karier yang tengah kubangun. Aku selalu bersemangat menapak hariku ketika datang di kota ini.
Masalah yang ada ketika aku datang mang berjibun. Dari cercaan sang atasan sampai masalah temen kost yang rese. Tapi semua itu tak pernah kupusingkan. Sampai datangnya hari ini. Saat pertemuan dengannya.
Gak tahu kenapa, tapi aku gak kuasa tuk berdiri. Kakiku terasa lemas. Kini aku duduk di lantai. Secara bergantian aku menutup wajah lalu telingaku. Berharap usaha ini dapat menghilangkan bayangannya dalam hidupku.
Tuhan sampai kapan aku seperti ini. Mencintai orang yang tak boleh aku cintai. Mengharapkan orang yang terlarang. Tuhan. Aku tahu aku salah. Tapi aku gak bisa bohong. Aku mencintainya. Aku sudah berusaha melupakannya. Tapi gak bisa. Ya gak bisa bukan karna aku gak mau melupakannya.
Aku gak tahu harus berkata apa Bapa. Dia memang sudah memiliki seseorang. Aku tahu dan aku menyadari itu. Aku memang gak boleh mengharapkan dia. Karna mengharapkan dia berarti dua hal yang kunantikan. Mereka putus atau salah satu dari mereka Kau panggil.
Enggak Bapa. Aku gak berharap seperti itu. Kalo aku mengharapkan dia berarti aku akan menyakitinya. Tapi gak bisa kupungkiri. Aku mencintai dia.
Bunyi sms memecah tangisku. Aku berdiri menuju kasur. Kuraih HP yang ada di sebelah kasurku.
Sender Joy
23/01/08
21.02
Hai Ri. Lg ngpain? Dah maem blm? Jgn smp lupa. Ntar kurus loh :D. Kl dah maem lngs bo2k y. Mimpi indah
Joy. Seorang cowok yang penuh dengan kehangatan dan kasih sayang. Seorang cowok yang selalu memenuhi aku dengan ketulusan cintanya. Tapi semua itu tak cukup kurasakan. Karna Joy bukan lah Seraf. Pria yang amat kucintai dan kupuja.
Kuhapuskan air mata yang menetes.
Bapa berkati Joy. Aku gak bisa membalas sms nya terus menerus. Aku gak bisa memberinya harapan. Gak adil rasanya memberikan harapan padanya padahal hati ini sudah terpatri tuk orang lain.
Joy maafkan aku. Bukan aku orangnya. Percayalah. Akan ada orang yang jauh lebih baik dari aku untukmu. Kumatikan HP dengan harapan tak ada seorang pun yang mengganggu malam ini. Lagi pengen sendiri dalam kepedihan. Membenamkan rasa ini dalam tidur yang aku harap sanggup menghapus asa ini.
